Lingkungan Bermain Hijau yang Membuat Balita Berani Mencoba
Perhatikan balita yang baru pertama kali melihat tanah berumput. Ia berhenti sebentar. Ia menatap kakinya sendiri, lalu menatap orang dewasa terdekat, seolah sedang meminta izin diam-diam. Baru setelah itu ia melangkah, hati-hati, dengan telapak kaki yang menekan pelan untuk merasakan teksturnya. Momen kecil itu sebenarnya adalah sebuah keputusan besar bagi anak seusianya, yaitu keputusan untuk mencoba sesuatu yang belum ia kenal. Dan keberanian semacam itu tidak muncul begitu saja. Ia tumbuh dari lingkungan yang membuat anak merasa cukup aman untuk mengambil risiko kecil.
Di sinilah ruang bermain memainkan peran yang jarang dibicarakan orang tua saat memilih sekolah. Kita cenderung menanyakan kurikulum, bahasa pengantar, dan jadwal belajar. Padahal untuk anak usia prasekolah, tempat ia bermain adalah tempat ia belajar. Di sanalah ia menguji keseimbangan tubuhnya, menakar seberapa jauh ia berani memanjat, belajar menunggu giliran, dan menemukan bahwa temannya mungkin menginginkan benda yang sama dengan yang ia pegang. Semua pelajaran sosial dan motorik yang paling mendasar terjadi di ruang terbuka, bukan di meja.
Lingkungan bermain yang hijau memberi sesuatu yang sulit ditiru ruangan tertutup. Ada cahaya matahari yang membantu tubuh anak mengatur jam tidurnya. Ada udara bergerak, bayangan daun yang berpindah, semut yang berbaris, suara burung yang mengalihkan perhatian sebentar. Rangsangan alami seperti ini bersifat lembut dan tidak memaksa, berbeda dengan layar atau mainan bersuara yang menuntut perhatian terus-menerus. Anak yang punya akses rutin ke ruang hijau umumnya lebih mudah tenang setelah beraktivitas, karena tubuhnya sudah bergerak cukup dan pikirannya sempat beristirahat dari rangsangan yang terlalu padat.
Yang membuat balita berani mencoba bukan semata peralatan yang tersedia, melainkan cara orang dewasa berdiri di sekitarnya. Anak akan menjajal lebih banyak hal ketika ia tahu ada guru yang mengawasi tanpa terus-menerus melarang. Larangan yang berlebihan mengajarkan anak bahwa dunia berbahaya dan dirinya tidak mampu. Sebaliknya, pendampingan yang tenang mengajarkan bahwa ia boleh mencoba, boleh gagal, dan akan ada yang membantunya bangkit. Perbedaan sikap ini halus, tetapi dampaknya pada rasa percaya diri anak bertahan sangat lama.
Karena itu, ketika Anda berkunjung ke sebuah sekolah, luangkan waktu untuk mengamati area bermainnya dengan mata seorang balita. Apakah permukaannya aman untuk kaki yang masih sering tersandung? Apakah ada tempat teduh untuk anak yang ingin menyendiri sebentar? Apakah ruangnya cukup untuk berlari, atau anak-anak harus bergantian dalam antrean panjang? Perhatikan juga apakah ada sudut yang lebih sepi, sebab tidak semua anak nyaman berada di tengah keramaian, dan sekolah yang baik menyediakan ruang bagi kedua tipe anak tersebut.
Amati pula bagaimana perpindahan dari bermain ke kegiatan berikutnya dilakukan. Transisi adalah momen tersulit bagi balita. Sekolah yang memberi aba-aba lebih dulu, yang membiarkan anak menyelesaikan permainannya, dan yang tidak memburu-buru barisan, biasanya adalah sekolah yang memahami cara kerja anak kecil. Sebaliknya, transisi yang selalu diiringi teriakan menandakan ada yang perlu Anda tanyakan lebih jauh.
Ada nilai lain dari bermain di luar yang sering diremehkan, yaitu kesempatan anak berjumpa dengan hal-hal yang tidak bisa diatur. Cuaca berubah, tanah kadang lembap, daun jatuh di tempat yang tidak diduga. Ketidakteraturan kecil semacam ini melatih anak menyesuaikan diri, sesuatu yang tidak diajarkan mainan yang selalu berperilaku sama. Anak yang terbiasa menghadapi kejutan ringan di halaman akan lebih luwes menghadapi perubahan di ruang kelas, misalnya ketika jadwal bergeser atau ketika ia harus duduk bersebelahan dengan teman baru. Kelenturan itu adalah bentuk paling awal dari daya tahan.
Pendekatan mindfulness yang dijalankan Global Sevilla menyentuh titik ini dengan cara yang sederhana. Anak diajak menyadari apa yang sedang ia rasakan dan apa yang sedang terjadi di sekitarnya, termasuk saat ia sedang bermain. Ketika seorang anak belajar berhenti sejenak sebelum merebut mainan, atau menarik napas ketika ia kecewa karena kalah berlomba, ia sedang berlatih keterampilan yang akan ia pakai seumur hidup. Sekolah yang berdiri sejak 6 Oktober 2002 ini bertumpu pada keyakinan bahwa murid yang bahagia adalah murid yang berprestasi, dan pada usia prasekolah kebahagiaan itu berwujud sangat konkret, yaitu anak yang pulang dengan wajah puas dan cerita yang ingin ia bagikan.
Bagi keluarga di kawasan Jakarta Barat, kampus Puri Indah di Jl. Kembangan Raya Blok JJ No. 1 berada dalam jangkauan permukiman seperti Kembangan, Kebon Jeruk, Meruya, dan Srengseng. Kedekatan ini penting untuk anak seusia prasekolah, sebab tenaga mereka sebaiknya dihabiskan untuk bermain dan menjelajah, bukan untuk duduk lama di perjalanan. Perlu diingat pula bahwa satu sekolah dengan jenjang berkelanjutan dari Preschool hingga Secondary memungkinkan anak tumbuh tanpa harus berpindah lingkungan di tengah jalan. Jika Anda ingin memahami lanskap pilihannya lebih luas, Anda bisa menelusuri daftar sekolah internasional di jakarta barat sebagai bahan pembanding.
Perhatikan juga bagaimana anak-anak yang sedang bermain berbicara satu sama lain. Di halaman, Anda bisa mendengar apakah mereka saling mengajak, saling menawarkan giliran, atau justru saling menyingkirkan. Cara anak-anak memperlakukan temannya adalah cermin dari cara mereka diperlakukan orang dewasa di sekitarnya. Sekolah yang menanamkan lingkungan aman dan bebas perundungan sejak jenjang paling awal akan terlihat dari hal-hal sekecil ini, jauh sebelum tertulis dalam dokumen resmi mana pun.
Satu hal yang perlu Anda pegang, tidak ada ruang bermain yang sempurna. Yang lebih menentukan adalah bagaimana ruang itu digunakan setiap hari dan seberapa hangat orang-orang yang ada di dalamnya. Halaman sederhana yang dikelola guru penuh perhatian akan jauh lebih bermanfaat bagi anak Anda daripada fasilitas mewah yang jarang benar-benar dipakai. Karena itu, saat berkunjung, lihatlah manusianya, bukan hanya bangunannya. Tanyakan seberapa sering anak-anak benar-benar keluar kelas dalam sehari, dan apa yang terjadi pada jadwal bermain ketika hari sedang hujan. Jawaban atas pertanyaan sesederhana itu biasanya cukup untuk memberi tahu Anda seberapa besar nilai yang sekolah tersebut berikan pada kebutuhan anak untuk bergerak.
Cara terbaik menilai semua ini adalah dengan hadir langsung dan membiarkan anak Anda ikut merasakannya. Anda bisa mulai dengan membaca informasi mengenai Preschool Jakarta Barat, lalu ikut sesi open house di kampus Puri Indah. Di acara seperti itu Anda dapat melihat bagaimana anak-anak bermain, bertanya langsung kepada guru, sekaligus memperhatikan reaksi si kecil terhadap tempat barunya. Sering kali jawaban paling jujur justru datang dari anak Anda sendiri, yaitu dari caranya melepaskan tangan Anda lalu melangkah lebih dulu ke halaman.